Langsung ke konten utama

KENAPA HARUS KENAPA?



Dibandingkan kakak-kakak yang lain, masa kecil saya sedikit belepotan.
Mereka seringnya jadi anak gadis yang penurut, saya tidak demikian. Suka memanjat pepohonan, main di irigasi, memburu ikan di got, hingga membanting pintu kalau lagi kesal. 😅

Dulu saya anak yang paling banyak komplain.
Setiap Mamak memerintahkan sesuatu, ada saja yang saya tanyakan sebagai isyarat ketidaksetujuan. Terlebih terkait kebiasaan orang terdahulu yang "hamee" bila dilakukan, alias akan berakibat buruk. Setiap diperintahkan sesuatu, saya acapkali bertanya alasannya.
Mengapa saya tak boleh makan banyak telur, mengapa tak boleh duduk atas bantal, mengapa tak boleh duduk depan pintu, mengapa sebelum Magrib harus sudah dirumah? Kenapa uang jajan kakak 500 sementara saya 200? 

"Kah asay ta peugah, sabee ka tanyoeng Pakoen..!! Menyoe ureung tuha yu; geu peubut, koen geu proteh!"
Jawab Mamak yang mulai kesal oleh saya yang segalanya butuh kenapa. Kenapa harus kenapa? 

Seumuran itu saya belumlah paham bahwa apa yang orang tua perintahkan adalah demi kebaikan anaknya, yang saya tau cuma banyak perintah dan larangan. Padahal dibalik itu orang tua sudah paham betul bagaimana melindungi anaknya dengan baik.

Roda berputar, saya pun menjadi ibu.
Dan tingkah sulung kami seperti wujud balasan atas apa yang atas apa yang saya lakukan dulu. Penyakit banyak komplain ini turun ke anak kami. Jika saya suruh atau saya larang, ada saja interupsinya, hampir dalam semua hal.
Sebagai satu saja contoh, saat ia saya  larang keluar siang-siang. Dia komplain KENAPA kawannya yang lain dibolehkan sama orang tua  mereka, sementara ia tidak.

"Mamak cuma urusin anak sendiri, gak urusin anak orang. Dia urusan Mamaknya sendiri" Timpal saya.

"Kenapa Mamak gak kayak Mamak orang tu aja?" Lanjutnya lagi.

"Lain rumah lain peraturannya. Kalau mau tinggal ma Mamak, ya ikut aturan Mamak" jawab  saya.

"Untuk apa tidur siang. Malam kan udah tidur
 Apa tidur-tidur terus" balasnya lagi.

"Biar cepet gedek, Biar sehat"

"Hanif kan emang sehat, gak sakit"

"Tapi Hanif kecil, Kalau disuruh tidur ya tidur!".

"Tapi...." Ia bersiap menyanggah lagi.

"Kalau disuruh ma orang tua itu dibuat, bukan tanya kenapa ini kenapa itu!"
Dalam bahasa yang berbeda, akhirnya saya terpaksa mengulang ucapan Neneknya dulu 🤐
Ternyata begini lah rasanya 🙄

Saya kira pasti banyak yang bernasib serupa, dipertanyakan, dikeluhkan oleh anaknya atas perintah kita kepada mereka.
Padahal apa yang orang tua lakukan untuk anaknya adalah wujud penjagaan terbaik.
Tetapi anak-anak asik mengeluh, mempertanyakan, seakan yang kita perintahkan adalah keburukan.
Wajar sebenarnya, karena namanya juga anak-anak, ingin tau banyak hal karena akalnya belum penuh, belum mengerti "cinta dan penjagaan" ibunya.

Tapi sebenarnya..
Kita yang dewasa; yang sudah berakal dan paham cinta ini juga melakukan hal yang sama.
Bedanya, kita kadang tak lagi mempertanyakan kehendak ibu, tapi mulai mempertanyakan kehendak Tuhan.

Kenapa Allah mengatur banyak hal.
Kenapa tak boleh menyentuh anjing padahal ia binatang setia, kenapa tak boleh pacaran padahal pacaran itu asik, kenapa gak boleh minum anggur padahal itu nikmat, kenapa riba dilarang padahal bisa bantu meminjamkan uang yang sangat kita butuhkan.
Kemudian kita paham, mudharat kesemua itu lebih besar daripada manfaatnya.

Dilain kisah, kita kadang juga mempertanyakan garis hidup yang harus kita lewati.
Tuhan.. Kenapa saya diuji dengan sakit sedemikian rupa?
Tuhan.. Kenapa Engkau belum mempertemukan jodoh saya?
Tuhan.. Kenapa orang lain begitu banyak engkau limpahkan kekayaan, sementara saya hidup susah?
Tuhan.. Kenapa Engkau uji kami dengan kehilangan buah hati?

Tuhan, kenapa begini..
Tuhan, kenapa begitu..

Padahal....
Jika ibu saja sedemikian paham bagaimana menjaga kita, apalagi Sang Pencipta; yang tau pasti kemampuan dan kebaikan untuk ciptaanNya.

Padahal...
Jika kita memang meyakini Allah Maha Penyayang, Allah sebaik-baik pelindung, maka hal yang kita anggap terburuk sekalipun, pastilah terbaik menurutNya; hal terbaik yang mungkin belum bisa kita pahami hari ini, karena kita memang masih "kecil" dalam mengimaniNya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lain Padang Lain Belalang, Lain orang Lain menarik kesimpulan.

[ Bak posko rumpi, Rumoh Ti Neh ] Kak Ramlah : Jehai ka kaloen si Halimah, ditelepon le Bang Din siat ka teukhem mameh keudeh. Hanjeut jioh meu sijarak ngen cut adek. Padahay rumoh lingkeu pageu sagay. Halimah : Alhamdulillah kak Ramlah, lawet nyoe ka leu meu ubah Yah Aneuk Mit. Ka perhatian.  . Kak Ramlah : Peu jeut? Droe kuh ka meublah-blah thoen hana meu ubah-ubah pih. Ci bagi resep dile. Halimah : Hehe. Gara-gara lon cerita tentang Bang Jol yang abeh umu inoeng nyan. Kak Ramlah : Bang Jol adek si Lim sampeng Meunasah? Halimah : Oe hay, jih keun ban padup buleun abeh umu inoeng. Aneuk jih manyak-manyak mentoeng. Sayang that ta kaloen. Ji peurayeuk aneuk sidroe jinoe. Lon peugah bak Yah aneuk mit "Sayang Bang keun ta kaloen Bang Jol, aneuk manyak that mentong Mak ka hana le. Padahal inoeng jih get that akay.. Pakeun le ureung get akay bagah that geu cok pulang... Oh ka meunoe pasti menyesal  si Joel barokon hana that geu hargai but Peurumoh, Hana that geu sayang Peurumoh. Ji...