Langsung ke konten utama

CUKUP



Suatu hari saya pernah kepincut memesan Lasagna secara online karena penasaran belum pernah coba rasanya.
Yang punya bisnis memang hampir tiap hari Open Order aneka makanan Italia di instagramnya.
Demi menghemat biaya saya memutuskan mencari alamatnya untuk ambil sendiri (mengingat lokasinya juga masih dipinggiran ibu kota)
Sedikit pangling melihat perumahan mewah pada alamat yang telah kami temukan. Ada 2 mobil terparkir di rumah berlantai 2 tsb. Sambil tertawa suami berkata
"Lihat tu, orang dah kaya aja masih mau capek-capek masak buat dapat uang lebih, Emang Adek?"
Mendadak saya tertawa ngilu.
Kami; yang kendaraan satu-satunya cuma Vario keluaran tahun 2007; hari ini membeli jajanan seorang yang kendaraannya Mobil keluaran terbaru, 2 pula jumlahnya

Suami memang pernah menawarkan untuk ikut bisnis online, tapi saya enggan. Timingnya gak pas menurut saya karena anak masih kecil-kecil, saya takut keteteran.
Pun kebutuhan belum mendesak.
Karena pada umumnya penyebab orang mencari uang lebih adalah karena punya kebutuhan lebih. Pengecualian buat yang passion dan hobbynya diasana.
Dan kata "butuh" disini berbeda levelnya tiap individu. Ada yang menganggap mobil itu kebutuhan, liburan adalah kebutuhan, gadget canggih adalah kebutuhan, sehingga merasa perlu mencari tambahan.
Hanya dengan memperingan definisi "kebutuhan", membedakan antara kebutuhan dan keinginan, maka saya bisa tenang untuk tidak menginginkan uang lebih.

Ini bukan tulisan untuk mengajak orang tak mencari uang lebih. Sama sekali bukan! Karena ada yang ingin uang lebih untuk berbagi, untuk membantu suami, untuk tabungan haji, dll.
Niat yang sangat mulia pastinya dibandingkan kami yang selalu punya 1000 alasan untuk berleha diri.

Ini hanyalah pemikiran ibu-ibu yang ingin hidup santai, tak dikejar target. Begini saja yang gak ada side job orang bilang saya udah "langsing" itu belum saya coba bekerja..
"Gak pengen punya mobil kayak orang?"
Pengen lah.
Tapi untuk apa saya paksa jika dengannya saya harus menguras banyak energi, banyak yang harus saya korbankan. Pun mertua punya mobil, kalau ada keperluan mendesak.

Karena keinginan lebih takkan berhenti disitu saja ketika kita dapatkan yang kita mau.
Maksudnya? Pemikiran primitifnya seperti ini; awalnya kita perlu uang lebih untuk mobil. Setelah punya mobil apa "uang lebih" tak diperlukan lagi?
Bensin? Pajak? Service? Bila penyok? Pakai apa bayarnya? Pake Rindu boleh?
Kan mana tau Dilan punya showroom mobil, trus bayarnya pakek rindu.  😅

Sejauh yang dicari adalah kebaikan maka teruslah mencari rezeki lebih. Tapi jangan sampai memaksakan diri kalau itu demi bisa beli baju butik, tas branded, atau sepatu mahal tiap bulannya, demi sebuah prestise.
Nyari duitnya repot, makeknya repot, di akhirat waktu ditanya "untuk apa semua itu?" juga lebih repot.

Percayalah satu hal, fashion dan teknologi itu gak akan ada habisnya kalau kita mau ikuti.
5 tahun lagi lihatlah apa yang kita beli hari ini; baju yang sudah sesak di lemari, tas sepatu dalam goni, deretan HP yang sudah tak kekinian lagi. Akan berakhir dengan pertanyaan "mau dibawa kemana semua ini?"

Mungkin karena melihat sudah banyak sekali para ibu rumah tangga yang banting wajan (banting stir kalau istilah Bapak-bapak), mencari rezeki, suami jadi heran kenapa saya kekeuh dirumah saja.
Saya paham betul pekerjaannya sebagai tenaga kontrak yang gajinya bahkan tak sampai UMR sementara saya hanya menjadi "guru" dihari sabtu di 2 lokal saja (karena belum adanya solusi tepat meninggalkan anak untuk mengajar lebih banyak).
Dalam keadaan seperti ini yang harus dilakukan adalah bersyukur lebih banyak.
Setidaknya kami sudah punya rumah sendiri (walau kecil), tidak dililit kredit, sementara banyak orang yang gajinya belasan juta malah masih belum selesai dengan 2 hal itu.

Dengan gaji tak lebih dari 2 juta, apa cukup?
Alhamdulillah masih cukup, bahkan bisa disimpan perbulannya barang 2 atau 3 lembar.
Kok bisa?
Berkah "tenaga kontak" plesetan kontrak; yang dikontak bentar-bentar. Yang kerjanya bukan main tapi gajinya main-main. Tapi Alhamdulillah berkahnya juga bukan main
Walau saya payah dalam memasak, payah dalam berlemah lembut, payah dalam mempercantik diri, tapi sebagai pasangan, saya tak payah dalam mengontrol diri yang mana kebutuhan yang mana keinginan.
Syukurnya fisik saya pun mendukung demikian, karena bahkan sampai sekarang masih ada baju yang saya pakai dari Aliyah masih muat dan saya pakai sampai sekarang!
Semoga tulisan saya ini tidak mempengaruhi penjualan Boneto ataupun Hi-lo ya.. Ingat, tumbuh itu bukan keatas, bukan kesamping. 😅

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lain Padang Lain Belalang, Lain orang Lain menarik kesimpulan.

[ Bak posko rumpi, Rumoh Ti Neh ] Kak Ramlah : Jehai ka kaloen si Halimah, ditelepon le Bang Din siat ka teukhem mameh keudeh. Hanjeut jioh meu sijarak ngen cut adek. Padahay rumoh lingkeu pageu sagay. Halimah : Alhamdulillah kak Ramlah, lawet nyoe ka leu meu ubah Yah Aneuk Mit. Ka perhatian.  . Kak Ramlah : Peu jeut? Droe kuh ka meublah-blah thoen hana meu ubah-ubah pih. Ci bagi resep dile. Halimah : Hehe. Gara-gara lon cerita tentang Bang Jol yang abeh umu inoeng nyan. Kak Ramlah : Bang Jol adek si Lim sampeng Meunasah? Halimah : Oe hay, jih keun ban padup buleun abeh umu inoeng. Aneuk jih manyak-manyak mentoeng. Sayang that ta kaloen. Ji peurayeuk aneuk sidroe jinoe. Lon peugah bak Yah aneuk mit "Sayang Bang keun ta kaloen Bang Jol, aneuk manyak that mentong Mak ka hana le. Padahal inoeng jih get that akay.. Pakeun le ureung get akay bagah that geu cok pulang... Oh ka meunoe pasti menyesal  si Joel barokon hana that geu hargai but Peurumoh, Hana that geu sayang Peurumoh. Ji...