Sejauh ini, saya belum pernah mendapatkan sisi baik dari arah manapun ketika melihat LGBT, tak terkecuali pada T; transgender (waria). Padahal belakangan saya sudah mencoba "berpikir positif" untuk hal apapun, tapi yang ini tidak bisa.
Entah kenapa pria ingin berevolusi jadi cantik, berbondong-bondong ingin punya casing seperti perempuan versi seseksi mungkin. Demi apa tak mau jadi laki-laki lagi?
Apa demi merasakan PMS yang bikin nyeri dan emosi?
Demi bisa bertarung nyawa untuk melahirkan buah hati?
Demi punyai hati sesabar dan setulus mungkin dalam mencintai?
Demi bisa berjihad di rumah, mengurusi anak dan suami?
Karena menjadi perempuan itu bukan semata-mata tentang body seksi, kejam sekali mereka menurunkan standar perempuan semata pada fisik. Sudah menduplikasi bentuk kami, kemudian malah mengincar lelaki juga; jenis pasangan kami.
Makin getir lah jalan perempuan mendapatkan pria ganteng sebagai pasangan, karena harus rebutan sama yang oplosan. Makanya, menurut saya sebenarnya walaupun waria merasa dirinya perempuan tapi bagi perempuan sebenarnya kitalah yang paling dirugikan oleh mereka.
Iya, manatau jadi perang dunia ke 3. Apa kalian bisa bayangkan di garda mana Waria ini berada.
Jangan sampe himpit-himpitan dia di penampungan anak-anak dan perempuan.
Padahal kan seharusnya lelaki ada di Medan perang bersama senjata. Nah mereka, senjata pun tak punya, yang udah ada malah dipotong tak bersisa 😅
Sebegitu banyaknya tanda tanya tentang mereka, hingga malam ini Waria berhasil meneror saya dalam mimpi
Alkisah. Sudah beberapa malam belakangan usai magrib pulang keperaduan, saya sudah kecapean. Shalat isya terpaksa diakhirkan menjelang subuh. Sesuatu yang sebenarnya tidak pernah diinginkan. Tapi ya gimana, namanya Emak dua anak yang mana 22nya masih perlu diurusi; dimandikan, dimasakin dan disuapin makanannya, dicuci kan pakaiannya, ditidurkan, didiamkan tangisannya, dibersihkan apa yang dijorokinnya. Yang bayi satunya bahkan kayak fans fanatik, kemana kita pigi dia histeris minta ikut; digendong.
Silap dikit kalau rumah gak dibersihkan dia bisa makan taik cicak. Kadang makan sambil gendong anak, bahkan kekamar mandi pun mesti bawa anak.
(Kira-kira ada gak ya waria yang pengen jadi perempuan karena pengen merasakan beginian)
Nah.. back to my nightmare.
Tadi setelah azan isya saya pun ketiduran (lagi) tanpa sempat shalat isya. Padahal sudah berapa kali Azam gak telat shalat (lagi). Jelang jam 1 malam saya terbangun ketakutan.
Seorang waria mengejar keluarga kami dengan sebilah parang ditangannya. Ia berhasil kabur dari penjara setelah membunuh 2 orang terdekat saya. Horor sekali rasanya sampai saya terjaga dan harus beristigfar berkali-kali.
"Setdah ini waria, udah menghantui kami di alam nyata, sampai ke alam mimpi pula disusulnya!" pikir saya saat terbangun.
Akhirnya saya pun terbangun dan lekas berwudhu. Usai shalat saya masih kepikiran mimpi tadi apa maksud Tuhan membiarkan Waria menyusup ke mimpi malam ini.
Merenung sejenak.
Saya kemudian jadi sadar.
Kalau bukan karena dikejar waria, mungkin malam ini saya belum shalat isya.
Finally, saya pun mendapatkan sisi positif dari apa yang dilakukan Waria.
Tadi saya bangun tidur langsung istighfar, dan sudah siap shalat isya, kan karena Waria.
Terkait waria. Pada nyatanya kita tetap harus mengakui bahwa mereka juga manusia. Dan Allah masih membiarkan mereka ada pasti ada alasannya; entah itu untuk menguji mereka atau justru menguji kita yang normal ini. Sejauh mana kita bisa membantu mereka menjauh dari kesalahannya, bukannya malah cuma bisa terus mencacinya.
Komentar
Posting Komentar